OPLET4D – Manchester United tidak sekadar menang dalam debut kedua Michael Carrick. Mereka mengembalikan jiwa yang sempat hilang: keberanian, kecepatan, dan DNA Sir Alex Ferguson.
Michael Carrick tidak bisa meminta panggung yang lebih megah untuk memulai periode keduanya sebagai manajer interim Manchester United. Menghadapi Manchester City di Old Trafford, Sabtu (17/1/2026) lalu, Carrick tidak hanya mengamankan tiga poin lewat kemenangan 2-0, tetapi juga menambahkan nama Pep Guardiola ke dalam daftar pelatih elit yang pernah ia taklukan.
Ini adalah kemenangan taktis dan mental. Sebelumnya, saat menjabat caretaker pada 2021, Carrick sukses menundukkan Unai Emery (Villarreal) dan Mikel Arteta (Arsenal), serta menahan imbang Thomas Tuchel. Kini, Guardiola menjadi korban terbarunya.
Namun, skor 2-0 sejatinya menipu. Man United tampil begitu dominan hingga membuat kiper City, Gianluigi Donnarumma, harus jatuh bangun melakukan penyelamatan kelas dunia demi mencegah skor menjadi lebih memalukan.
Dengan tiga gol yang dianulir karena offside tipis, serta peluang Harry Maguire dan Amad Diallo yang menghantam tiang, Setan Merah menunjukkan level performa yang jarang terlihat sejak era Sir Alex Ferguson berakhir pada 2013 silam.
Kembalinya “Cita Rasa” Ferguson

Skuad Manchester United merayakan gol Bryan Mbeumo ke gawang Manchester City, Sabtu (17/01/2026). (c) AP Photo/Dave Thompson
Roy Keane sempat mengkritik penunjukan Carrick dan staf kepelatihannya, bahkan menyebut bayang-bayang Ferguson di Old Trafford seperti “bau tak sedap” yang tak kunjung hilang. Namun, di lapangan, Carrick justru membuktikan bahwa warisan taktik sang legenda Skotlandia masih relevan.
Carrick membuang eksperimen rumit era Ruben Amorim. Ia kembali ke pakem 4-2-3-1 yang fleksibel—bisa berubah menjadi 4-3-3 atau 4-2-4 saat menyerang.
Perubahannya drastis. United tidak lagi mencoba meladeni City dalam penguasaan bola yang lambat. Sebaliknya, mereka bermain dengan kecepatan, directness (langsung ke depan), dan intensitas tinggi. Ketika kehilangan bola, transisi bertahan mereka agresif. Casemiro, Harry Maguire, hingga Lisandro Martinez tidak ragu melakukan tekel keras untuk memblokir jalur tembakan City.
Serangan balik mematikan—ciri khas United selama dekade kejayaan—kembali terlihat. Gol pembuka Bryan Mbeumo lahir dari skema ini, memecah kebuntuan setelah Donnarumma berkali-kali menyelamatkan gawang City sendirian.
Perjudian Taktis: Sayap Murni dan Peran Bruno

Selebrasi Bryan Mbeumo (kiri) di laga Manchester United vs Manchester City, Sabtu (17/01/2026). (c) AP Photo/Dave Thompson
Keputusan berani Carrick lainnya adalah menempatkan Bruno Fernandes kembali ke posisi naturalnya sebagai No. 10.
Di bawah asuhan Amorim, Bruno kerap bermain terlalu dalam. Di tangan Carrick, kapten United ini diberi kebebasan berkreasi di sepertiga akhir lapangan. Visinya dalam memindahkan bola dengan cepat membuat pertahanan City kelabakan.
Carrick juga meniadakan peran inside forwards. Ia menginstruksikan Patrick Dorgu dan Amad Diallo bermain sebagai sayap murni (proper wingers) untuk melebarkan permainan. Strategi ini terbukti jitu. Gol kedua United lahir dari aksi Dorgu yang berlari kencang menyambut umpan silang Matheus Cunha, setelah sebelumnya memenangi adu lari melawan Rico Lewis.
Dampak Instan Mbeumo dan Amad

Selebrasi Bryan Mbeumo usai membobol gawang Manchester City, Sabtu (17/1/2025) (c) MUFC Official
Tidak bisa dipungkiri, kembalinya Bryan Mbeumo dan Amad Diallo dari tugas negara di Piala Afrika (AFCON) menjadi katalis perubahan ini. Statistik berbicara: sebelum kepergian mereka ke AFCON, United mencatat rata-rata 2,4 gol per pertandingan. Tanpa mereka, angka itu anjlok menjadi 1,2 gol per laga, termasuk saat kekalahan dari Brighton di Piala FA.
Carrick jeli melihat potensi Mbeumo. Alih-alih memasang Benjamin Šeško sebagai ujung tombak, ia memilih Mbeumo di posisi No. 9. Kecepatan dan mobilitas Mbeumo membuka ruang bagi Amad untuk mengeksploitasi sisi kanan, posisi terbaiknya.
Ketenangan Mainoo dan Soliditas Pertahanan

Selebrasi Bryan Mbeumo dan Casemiro bersama pemain Manchester United di laga melawan Man City, Sabtu 17 Januari 2026. (c) AP Photo/Dave Thompson
Di lini tengah, Kobbie Mainoo menjawab kepercayaan penuh Carrick. Sempat dipinggirkan oleh Amorim, gelandang berusia 20 tahun ini tampil penuh selama 90 menit. Penampilannya tidak mencolok, namun penuh kedewasaan—karakteristik yang memicu breakout season-nya pada 2024.
Di belakang, kembalinya Harry Maguire melengkapi kuartet bek terbaik United. Duetnya bersama Lisandro Martinez—yang jarang bermain bersama hampir setahun terakhir—terbukti solid. Meski sempat kesulitan di awal melawan Jeremy Doku, Diogo Dalot mampu bangkit, sementara Luke Shaw menunjukkan kelasnya di bek kiri.
Jika kuartet ini bisa terus fit, masalah rapuhnya pertahanan United di “tahun 2025 yang sulit” mungkin akan segera teratasi.
Misi Berikutnya: Tiket Liga Champions!
Kini, dengan tidak adanya gangguan kompetisi lain, fokus Carrick adalah membawa United finis di empat (atau lima) besar untuk mengamankan tiket Liga Champions. Konsistensi, yang menjadi barang mahal di era Amorim, akan menjadi kunci.
Atmosfer Old Trafford hari itu menjadi saksi. Fans tidak hanya merayakan kemenangan, mereka merayakan kembalinya identitas tim. Jika Carrick mampu menjaga momentum ini, audisi untuk posisi manajer permanen mungkin akan berjalan lebih mulus dari yang diperkirakan.
Sumber: OPLET4D

Promo Bonus Terbesar:
- Bonus New Member 10%, Maks 300.000
- Bonus Deposit Harian Rp.5.000,- (1x Sehari)
- Bonus Cashback 15% ( Tembak Ikan & Live Casino )
- Bonus Cashback Sportbook 5%
- Bonus Rollingan Slot 0.5% ( Tanpa Batas )












Leave a Reply